Lebih dari seratus orang, sebagian besar berbusana hitam, memenuhi sebuah sudut di luar Taman Monas, persis di seberang Istana Presiden, Jakarta, Kamis (19/1) sore.

“Ini Kamis yang bersejarah,” kata Suciwati, janda mendiang Munir, pejuang HAM yang dibunuh secara misterius, 13 tahun lalu.
“Ini tahun ke-10, Kamis ke-477, sekaligus ke-477 kalinya kita lakukan aksi di depan istana, menuntut penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM,” tambah Suci yang kali ini bertindak sebagai pemimpin aksi.
Sesekali hadirin meneriakan yel khas Kamisan: “Hidup korban!”
“Sayangnya,” kata Sumarsih, perempuan berambut pendek dengan dominasi putih, ibunda Norman Irawan, korban tewas dalam Peristiwa Semanggi 1, “sejauh ini tak ada perkembangan berarti dalam penuntasan kasus-kasus itu.”

Tak ada kasus HAM atau tragedi terkait peristiwa politik yang benar-benar diproses pengadilan, tambah salah satu peserta aksi paling setia ini.
Sejumlah peserta aksi membentang poster, di satu sudut dipampang sejumlah foto, dan beberapa orang memasang payung-payung hitam bertuliskan kasus-kasus HAM.
Payung hitam memang identik dengan unjuk rasa rutin yang belakangan disebut sebagai Aksi Kamisan. Sejak dilangsungkan pertama kali 18 Januari 2007, aksi ini ditandai dengan payung hitam -dan kostum hitam.
Selama 10 tahun dan 477 aksi, hanya pernah sekali mereka ditemui oleh tusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat dia berkuasa.

Dan mereka sudah meminta pertemuan dengan Presiden Jokowi, namun sejauh ini baru mendapat janji, bahwa pertemuan itu akan dijadwalkan.
“Saya tak tahu mengapa belum juga ditemui, atau kapan permintaan audiensi kami dikabulkan,” kata Sandyawan Sumardi, salah satu peserta setia aksi Kamisan.

Yang jelas, kata Sumarsih, mereka akan terus menggelar aksi, hingga keadilan terkait berbagai kasus HAM ditegakkan.
“Pak Jokowi masih memprioritaskan program-program pembangunan infrastruktur. Soal penuntasan kasus HAM masih belum prioritas rupanya,” tambah Sumarsih.
“Itu membuat kami bisa memastikan, bahwa aksi Kamisan akan terua berlangaung hingga waktu yang lama. Walaupun moga-moga tak sampai 10 tahun mendatang,” kata Sumarsih getir.
Yang terbaik, katanya pula, adalah kalau Kamisan bisa dihentikan, karena itu akan berarti keadilan dan hukum sudah ditegakkan.
“Sekarang, kami masih pesimis. Namun ada juga optimisme, bahwa makin banyak anak muda yang peduli pada apa yang kami perjuangkan,” katanya seraya menunjuk pilihan pelajar yang berdatangan, dan mengajaknya bicara.
Yang berbeda juga dalam Kamisan ke 477 dan ke 10 tahun ini adalah kehadiran sejumlah pesohor. Antara lain musikus dan penyanyi terkenal Melanie Subono dan komedian Arie Kiting.

Ging Ginanjar
Wartawan BBC Indonesia

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *