Bagi Sumarsih (65), ibunda Bernardus Realino Norma Irawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta yang meninggal dalam peristiwa Semanggi I, memori itu melekat. Sumarsih masih merawat ingatan agar tidak ada lagi orangtua seperti dirinya di negeri ini. Ia terus mencari keadilan meski jalannya mungkin tak berujung.

Foto: Kompas/Wisnu Widiantoro

Sumarsih bersama puluhan orangtua lain yang kehilangan anak dalam rentetan peristiwa Tragedi Mei 1998, Semanggi I, dan Semanggi II setiap hari Kamis berkumpul dalam aksi damai di depan Istana Negara. Aksi Kamisan kemarin sudah diikuti Sumarsih dan rekan-rekannya selama sepuluh tahun. Kemarin merupakan aksi ke-476. Aksi itu pertama kali diadakan pada 18 Januari 2007.

“Meskipun Wawan telah pergi, saya merasa dia tetap ada di hati saya dan anggota keluarga yang lain. Makam Wawan adalah taman hati bagi kami sekeluarga,” ujarnya, yang kehilangan Bernardus Realino Norma Irawan (Wawan), putra pertamanya, dalam peristiwa Semanggi I, 13 November 1998.

Sejak hari itu, Sumarsih berupaya mencari keadilan atas nasib putranya. Bukan demi dendam, melainkan demi penegakan hukum dan agar peristiwa itu menjadi pembelajaran bersama. Namun, jalan pencarian keadilan itu tidak mudah karena hingga hampir 19 tahun setelah kematian putranya, negara seolah abai.

“Saya sekarang seperti mati rasa karena jika dibilang sedih, saya juga tak lagi sedih. Namun, jika dibilang gembira, saya juga tidak bisa bergembira atas apa yang terjadi. Saya sering menangis mengenang Wawan. Siapa orangtua yang rela anaknya disakiti, bahkan dibunuh,” ujarnya, Kamis (12/1) sore.

Pencarian keadilan

Reformasi 1998 menandai titik balik bangsa dari era otoriter menuju era yang lebih demokratis. Ribuan orang menjadi korban. Sebagian warga bangsa seolah telah lupa, meski banyak pula yang mengenangnya dalam ketegaran, dan terus berjuang menyuarakan keadilan.

Sumarsih menjadikan Aksi Kamisan sebagai sarana pencarian keadilan sekaligus upayanya mentransformasi kesedihan menjadi perjuangan. Sumarsih tidak merasa sia-sia kendati hingga kini aksi yang digalangnya bersama teman-temannya itu belum juga memperoleh tanggapan dari Presiden, baik pada era Joko Widodo maupun pada era sebelumnya.

“Tuhan memberi saya kekuatan yang berlimpah-limpah hingga saya tidak merasa sia-sia melakukan ini semua. Oleh karena saya ingat bahwa salah satu hal yang diperjuangkan oleh anak saya, Wawan, saat Reformasi adalah penegakan supremasi hukum,” katanya.

Foto: Kompas/Wisnu Widiantoro

Aksi Kamisan pada mulanya diinisiasi oleh Jaringan Solidaritas Keluarga Korban (JSKK) yang sebagian besar adalah keluarga korban rentetan peristiwa 1998-1999. Kini, aksi itu menjadi simbol perjuangan bagi seluruh korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat.

“Semua orang boleh mengikuti aksi ini. Ini aksi terbuka karena yang diperjuangkan di sini bukan hanya soal keluarga korban. Kami di sini juga bicara soal pertanian, perempuan, isu nasional, dan refleksi atas situasi kebangsaan lainnya,” ujar Sumarsih.

Kemarin, semua peserta aksi mengenakan baju hitam dan membawa payung hitam sebagaimana kebiasaan mereka setiap kali aksi. Sekitar 30 peserta hadir, tetapi sebagian besar adalah anak muda yang peduli dengan isu penegakan hukum dan HAM.

Selama sepuluh tahun, Aksi Kamisan berarti juga selama itu pula pemerintah tak kunjung menuntaskan kasus-kasus HAM berat.

“Saya berharap Pak Joko Widodo tak melupakan janji suci dan komitmen politiknya ketika ia mencalonkan diri sebagai presiden. Upaya menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat ada di dalam Nawacita dan semoga hal itu tidak dilupakan presiden,” kata Sumarsih.

Kehilangan Wawan menjadi api penyulut semangat Sumarsih untuk terus memperjuangkan keadilan bagi para korban. “Ini bukan hanya soal anak saya, melainkan soal komitmen dan tanggung jawab negara,” kata Sumarsih.

Plaza de Mayo

Jalan perjuangan yang dipilih Sumarsih dan orangtua lain melalui Aksi Kamisan terinspirasi gerakan kelompok ibu dari Argentina yang memulai aksinya pada 1977. Para ibu di Argentina berkumpul di Plaza de Mayo, di depan Istana Kepresidenan Argentina, menuntut pemerintah menemukan anak-anak mereka yang hilang selama rezim militer berkuasa di negara itu, 1976-1983. Gerakan itu membuahkan hasil. Pemerintah Argentina membentuk komisi nasional untuk orang hilang.

Gerakan “Mothers of the Plaza de Mayo” juga menginspirasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan Konvensi Anti Penghilangan Orang secara Paksa tahun 1998. Konvensi itu belum diratifikasi oleh Indonesia. Padahal, menurut rekomendasi Panitia Khusus DPR mengenai orang hilang, ratifikasi konvensi PBB tersebut masuk sebagai hasil rekomendasi.

“Hingga kini, keempat rekomendasi tersebut belum dilaksanakan pemerintah,” ujar Feri Kusuma, Kepala Divisi Pemantauan Impunitas dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Meskipun terinspirasi dari gerakan di negara lain, Aksi Kamisan memiliki makna lebih luas bagi para korban pelanggaran HAM berat Indonesia. Tidak hanya bagi korban peristiwa 1998- 1999, Aksi Kamisan juga menjadi kuil memori bagi korban pelanggaran HAM berat lainnya, seperti peristiwa 1965, tragedi Tanjung Priok, lumpur Lapindo, dan kekerasan di Wasior-Wamena (Papua).

Pelanggaran HAM adalah kegelapan yang harus dilawan. Perlawanan dengan orasi dan audiensi dengan pejabat negara telah cukup sehingga yang diperlukan kini hanyalah diam. Diam bukan berarti tidak bersuara karena diam adalah suara protes paling keras.

Aksi Kamisan di Jakarta juga memicu gerakan serupa dilakukan di daerah lain. Pesertanya bukan lagi korban pelanggaran HAM berat, melainkan kalangan mahasiswa dan generasi muda yang peduli pada isu pelanggaran HAM.

“Jangan sampai kejadian seperti yang menimpa mereka terulang lagi. Kami tidak ingin lupa pada sejarah,” ujar Ahmad Sajuli (23), mahasiswa Universitas Negeri Jakarta yang mengikuti Aksi Kamisan, kemarin.

Sepuluh tahun sudah Aksi Kamisan digelar. Perjuangan menegakkan hukum dan HAM belum berakhir. Sepanjang ingatan tetap ada, perjuangan menegakkan keadilan bagi para korban akan terus disuarakan kendati negara berkali-kali abai.

RINI KUSTIASIH

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Januari 2017, di halaman 1 dengan judul “Mereka yang Terus Merawat Ingatan”.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *