“Simbol perlawanan ibu-ibu yang terus konsisten”

Delapan tahun Reformasi bergulir, delapan tahun pula kasus pelanggaran HAM kian mengelam. Penguasa terus berganti, sampai dengan kini Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat tak satupun pelanggaran berat HAM menemui titik terang. Peristiwa 65, Talangsari, Tanjungpriok, 27 Juli 1996, Penculikan, Trisakti, Mei 1998, Semanggi I, Semanggi II tak tersentuh hukum dan keadilan. dan pamungkasnya adalah pembunuhan Munir, seorang yang selama ini bergiat mengadvokasi kasus-kasus tersebut. Semunya menggelap karena digelapkan, Negara terus menggelapkan pelakunya, menggelapkan penanggungjawabnya, bahkan Negara menjadi pelaku impunitas terhadap kasus tersebut, dengan terus mengabaikan penuntasannya. Kemauan dan keberanian SBY mestinya mampu menjawab semua soal di atas, sebab peran kunci saat ini ada pada genggamanya.

Delapan tahun para korban dan keluarga korban, dengan segala upaya dan daya telah mengartikulasikan segala asa, rasa, dan tuntutan pada setiap mereka yang berkuasa. Namun kebebalan Negara tak jua tersembuhkan. Situasi tersebut, menggerakan korban dan keluarga korban untuk melakukan aksi diam setiap hari kamis, selama satu jam, pukul 16.00-17.00 Wib, di pusat simbol kekuasaan negeri ini “Istana Merdeka” bersama busana kedukaan dan kekelaman “hitam-hitam”, bersama payung hitam dan kenangan kedukaan “foto-foto korban”. melakukan aksi diam, sebagai pertanda habisnya sudah segala artikulasi korban dan keluarga korban terhadap bebalnya penguasa negeri ini terhadap penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM. Dengan sebuah pengharapan, bahwa Negara akan memberikan pertanggungjawaban terhadap tragedi pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia. Dan aksi ini merupakan bagian dari gerakan moral yang ingin menyebarkan tentang pentinganya arti kemanusiaan kepada masyrakat luas.

Aksi ini sudah berjalan sebanyak tiga kali, sepanjang kamis; 18/1/07, 25/1/07, 01/2/07.  Aksi ini selain diikuti korban dan keluarga korban, juga terlibat aktif di dalamnya Rieke “Oneng” Diahpitaloka. Dan sekali waktu, Sony Tulung pun ikut terlibat. Aksi ini memang dimaksudkan untuk merangkul dan mengajak siapapun masyarakat yang peduli, memiliki solidaritas dan keinginan untuk bersama bergabung menyuarakan penegakan HAM di Indonesia.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *