Pada 1841, Solomon Northup menjalani hidup yang bahagia bersama istri dan dua anaknya di Saratoga Springs, New York. Laki-laki keturunan Afrika-Amerika itu adalah seorang pemain violin andal, sebelum kemudian dua laki-laki kulit putih, Brown dan Hamilton, menawarinya pekerjaan menarik untuk bermain musik di Washington DC. Tetapi, Solomon tertipu. Ia tidak bermain musik di Washington DC, tetapi dijual kepada juragan tenaga perbudakan bernama Burch.

Solomon kemudian terbawa kapal ke New Orleans, bersama korban penculikan lainnya. Ketika dibeli oleh seorang pemilik perkebunan bernama William Ford, ia pun harus menerima identitas baru, bukan lagi Solomon seorang merdeka dari New York, melainkan Platt, seorang budak belian yang melarikan diri dari Georgia.

12 Years a Slave adalah film yang membawa Lupita Nyong ‘O meraih penghargaan Oscar sebagai pemain pendukung terbaik. Lupita bermain sebagai Patsey, perempuan budak yang ditemui Solomon ketika ia berpindah majikan kepada Edwin Epps, yang sehari-harinya memerkosa dan melakukan kekerasan fisik pada Patsey, perempuan negro yang sebelumnya telah dipisahkan dari anak-anaknya itu.

Film yang penuh adegan siksaan fisik disertai umpatan-umpatan rasis dengan ketegangan maksimal itu diakhiri dengan masa pembebasan Solomon setelah 12 tahun terombang-ambing dalam sindikat perdagangan manusia yang dilatari ideologi bodoh sentimen warna kulit dan sejarah ras itu.

Saya selalu ingat nukilan sambutan kemenangan Nyong ‘O pada 2014 lalu,”When I look down at this golden statue, may it remind me and every little child that no matter where you’re from, your dreams are valid.” Nyong’O tampil sebagai perempuan teguh yang mengacungkan Piala Oscar, hitam kulitnya memancarkan tekad dan hasrat kesetaraan.

Pada perkembangan dunia yang selanjutnya, sentimen identitas yang mengakibatkan tragedi kekerasan kemanusiaan tidak hanya bersumber dari warna kulit saja. Ia bisa muncul dari latar keluarga, agama dan kepercayaan, golongan, partai, dan afiliasi politik, bahkan sesederhana tampilan luar, mulai dari panjang celana, tato, lebar kerudung, hingga jenggot.

Menilai manusia dari satu identitas dengan menggugurkan unsur-unsur lain pembentuk entitasnya adalah tindakan dungu yang terus direproduksi oleh sejarah. Narasi 12 Years a Slave bukan hanya sebuah memoar nyata dari Amerika. Di Indonesia, nasib sejenis itu pernah, bahkan masih terus terjadi, dan tidak pernah tuntas.

Satu fragmen pelanggaran HAM berat masa lalu, misalnya, diangkat oleh sebuah film dokumenter yang dipublikasikan channel ASIA AJAR lewat kanal Youtube berjudul Nina & The Stolen Children of Timor-Leste. Nina bernama asli Isabelinha De Jesus Pinto. Ia adalah anak Manuel Pinto, seorang liurai (sebutan untuk keturunan bangsawan) yang menjadi kepala desa di Viqueque, yang dipisahkan dari keluarganya pada 1979 dengan diangkut kapal oleh tentara ke Jawa.

Lilik Hs dalam kolom berjudul Nina dan Sore di Seberang Istana menyebut bahwa CAVR, Komisi Kebenaran Timor-Leste, memperkirakan ada sekitar 4000 anak diambil dari keluarga mereka dan dibawa ke Indonesia selama masa pendudukan Indonesia antara 1975 hingga 1999.

Anak-anak itu diangkat sebagai anak, juga ada yang dititipkan di pesantren atau yayasan. Sebagian besar anak-anak ini direkrut sebagai Tenaga Bantuan Operasional (TBO) dengan tugas memikul logistik tentara. Mereka kemudian dibawa ke Indonesia dengan janji akan disekolahkan. Ada juga yang dibawa paksa begitu saja.

Dan, seperti potret ironi film-film perbudakan, sebagian besar mereka hidup terlunta-lunta, tidak sekolah dan mendapat perlakuan buruk, dipukuli hingga disiram air panas oleh orangtua angkat mereka. Seperti Edwin Epps yang menendang kemaluan Solomon sambil memekik “fucking black negro!”, Nina pun mengingat bagaimana ia dimaki dengan umpat khas kaum rasis, “Dasar anak Fretilin! Dasar anak Timor!” sambil menanggung duka kehilangan kontak dengan keluarga.

Aksi Kamisan 500 Foto: Suryo Wiyogo

Kemarin, 27 Juli 2017, ketika ingatan sebagian orang Indonesia mengingat peristiwa Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996) di Jakarta, segenap aktivis dan penyintas kasus Hak Asasi Manusia (HAM) berdiri di seberang istana. Ratusan orang berpayung dan berkaos hitam-hitam, didukung pula oleh band indie seperti Efek Rumah Kaca, memperingati Aksi Kamisan yang ke-500.

Kasus pelanggaran HAM berat dapat didefinisikan berbentuk genosida, pembunuhan sewenang-wenang, penyiksaan, penghilangan orang secara paksa dan perbudakan atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis. Anak-anak Timor Leste adalah satu kasus yang terus diadvokasi oleh Komnas HAM.

Ada sederet kasus lain dari belantara Tragedi 1965, Tanjung Priok 1984, Aceh 1990, Marsinah 1994, Wartawan Udin 1996, penculikan aktivis 1998, Trisakti dan Semanggi 1998, Ambon 1999, Poso 2000, Munir 2004, hingga penyerangan Novel Baswedan oleh orang tidak dikenal yang telah lewat 100 hari.

Kasus-kasus yang umum itu belum termasuk deret panjang kekerasan yang dilakukan berbagai perusahaan besar dalam sengketa perebutan lahan dengan berbagai masyarakat adat di Jambi hingga Kalimantan. Ya, pekerjaan rumah kita memang banyak.

Di tengah aksi Kamisan ke-500 adalah seorang Sumarsih. Keharuman nama Maria Catarina Sumarsih alias Ibu Sumarsih sudah lama saya dengar. Ulasan panjang tentang Sumarsih, salah satunya saya baca dari tulisan Andina Dwifatwa berjudul Perempuan Berpayung Hitam dalam buku Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme (Pindai, 2016). Dalam ingatan, nama itu berhimpitan dengan nama ibu-ibu hebat lainnya seperti Suciwati Munir dan Sukinah.

Sumarsih adalah ibu dari B.R Norma Irmawan alias Wawan, mahasiswa Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta yang ditembak mati pada November 1998 dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Semanggi. Kemarin ketika melihat Sumarsih lewat video teaser Aksi Kamisan, seperti biasa tidak pernah ada tanda-tanda menyerah di matanya. Ia menegaskan bahwa Aksi Kamisan yang ke-500 digelar untuk menuntut pemerintah menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat dan melawan impunitas.

Pada peringatan 10 tahun atau Kamisan ke 477, ia mencatat hanya ditemui satu kali oleh Presiden SBY selama dua periode masa pemerintahannya. Dan hingga kini, belum ada perkembangan dari Presiden Jokowi terkait kesungguhannya pada isu ini, sebab masih berfokus pada program percepatan pembangunan infrastruktur.

Baginya, negara tidak cukup mengaku bersalah dan meminta maaf kepada korban pelanggaran HAM berat. Negara harus menggelar peradilan hukum sebab ia ingin tahu apa kesalahan anaknya sampai harus ditembak mati. Dan kalau Wawan memang tidak bersalah, lantas siapa yang sebenarnya harus dihukum atas kejadian itu?

Bagi anak muda generasi saya, sebagian besar peristiwa itu mungkin tidak pernah kita saksikan. Beritanya buram dan kabur sebab buku teks dan media dipenuhi hegemoni penguasa yang selingkuh dari para pemodal. Tetapi saluran informasi makin terbuka. Kita harus terus merawat ingatan dan melawan sebab kita tidak ingin melihat anak kita tiba-tiba ditembak mati, diculik paksa, dihilangkan, atau mati diracun.

Kita tidak ingin alat-alat negara melanggengkan jalan-jalan kekerasan hingga menciptakan generasi penuh trauma lebih banyak lagi.

Bagi Suciwati, Sumarsih dan para aktivis yang kemarin hadir mendukung Aksi Kamisan, perjuangan ini memang langkah panjang dan belum ada titik terang, namun bukan berarti tidak ada perkembangan. Mereka ada, berlipat ganda, dan tidak terkalahkan.

Saya yang hanya bisa mengirim ungkapan solidaritas dari Yogyakarta ini, dengan digenapi rasa malu dan hormat yang penuh, semoga tetap diizinkan meskipun hanya bisa sekadar menulis.

Aksi kemarin memang akhirnya seperti lirik Iwan Fals dalam lagu Siang di Seberang Istana, “Sombong melangkah istana yang megah/ Seakan meludah di atas tubuh yang resah/ Ribuan jerit di depan hidungmu/ Namun yang kutahu…./Tak terasa terganggu.” Massa aksi tidak ditemui oleh Presiden maupun perwakilan istana sama sekali.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *