Kamisan sebagai bentuk perlawanan keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia dalam melawan lupa telah berlangsung selama 10 tahun sejak aksi pertama di depan Istana Merdeka pada 18 Januari 2007.

Dalam memperingati 10 tahun aksi Kamisan, para aktivis dan korban pelanggaran HAM kembali mendatangi Istana Merdeka hari ini, Kamis (19/1/2017). 

Dalam aksinya, mereka tetap tampil khas, dengan menggunakan pakaian hitam serta payung hitam, di depan Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Meski selama ini belum ada satu pun kasus pelanggaran HAM masa lalu yang dituntaskan secara hukum, namun kepedulian masyarakat terhadap kasus pelanggaran HAM masa lalu dirasakan terus meningkat.

“Kami didukung anak-anak muda di berbagai daerah, baik di Bandung, Pekanbaru, Medan, Malang Surabaya, Karawang, Banten, Batam, Samarinda, Yogyakarya,” ujar Maria Katarina Sumarsih (65), penggagas Kamisan, saat ditemui Kompas.com di tengah aksinya, Kamis.

“Di sana sekarang sudah ada Kamisan, ” ucap ibu dari BR Norma Irmawan alias Wawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya yang tewas saat peristiwa Semanggi 1 pada 1998 tersebut.

Dalam aksinya, para aktivis HAM, korban dan keluarga korban ini menuntut Presiden Joko Widodo untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di masa lalu.
 
Sejumlah kasus itu seperti kerusuhan Mei 1998, tragedi penembakan Trisaksi, tragedi Semanggi 1 dan Semanggi 2, kasus penghilangan aktivis demokrasi, peristiwa Talang Sari Lampung, peristiwa Tanjung Priok 1984, hingga tragedi 1965.
 
Istri mendiang pejuang HAM Indonesia Munir, Suciwati, juga hadir dalam aksi Kamisan ini. Suciwati ikut aksi bersama puluhan orang lainnya.

Penulis : Mikhael Gewati
Editor : Bayu Galih

Sumber: Kompas.com

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *